
“Menikmati pekerjaan anda sangat lah penting. Jika karya Anda menjadi ungkapan terbaik bagi gagasan anda sendiri, anda tentunya akan menikmatinya dengan baik,” begitulah bunyi salah satu quotes dari pendiri Honda yang lahir di Yamahigasi, Zhizuoka.
Pendekatan yang dimiliki oleh Soichiro Honda dalam mengelola bisnisnya sangatlah tidak umum bagi kebanyakan pengusaha Jepang saat itu. Tidak percaya pada hirarkis dan mencoba untuk tidak mempekerjakan orang-orang profesional yang berpendidikan tinggi.
Anak seorang pandai besi bernama Gihei Honda dan Ibunya, Mika yang bekerja sebagai penenun, dia meninggalkan desa kecilnya pada tahun 1922. Mencari limpah ruahnya pengetahuan di Ibu Kota dan akhirnya menjadi simbol kebangkitan industri Jepang setelah Perang Dunia I dan II.
Seorang yang kerap berapi-api saat berbicara tentang pemikirannya. Dia selalu menjadi orang luar di negerinya sendiri, bahkan kesuksesannya menelurkan begitu banyak kecemburuan di Detroit. Menjalankan strategi seadanya setelah membangun pabrik. Tahun 1991, banyak masyarakat industri disana mengharapkan Honda sebagai produsen mobil terbesar ketiga di Amerika Serikat hingga mampu menggusur dominasi Chrysler, saat itu.
Jalur Karir yang Menjanjikan.
Sebagai anak laki-laki, Soichiro lebih suka membantu pekerjaan ayahnya di toko sepeda dari pada melakukan pekerjaan rumah. Hal ini tercermin dari nilai buruk yang diperoleh saat menerima laporan tahunan sekolah.
Ketika itu, ia harus menyerahkannya untuk mendapatkan tanda tangan dari pihak orang tua. Rasa malu dan takut jelas-jelas menyelimuti dirinya. Tidak mau mengecewakan, ia segera membuat sebuah hieroglyphs mirip tanda tangan orang tuanya bersama beberapa teman yang memiliki nasib serupa.
Namun perbuatan curang tersebut dapat diketahui, hingga sampai ke kuping ayahnya. Langsung ia menghukum dan menyuruh anaknya untuk tinggal di sebuah tikungan jalan guna berlutut sepanjang hari. Tapi tetap Soichiro tidak menggubrisnya. Dia anggap semua ini hanyalah sebuah pelajaran yang berharga.
Pada tahun 1922 saat usianya masih 16 tahun, Soichiro muda meninggalkan rumah dan pergi ke Tokyo untuk mencari pekerjaan. Dengan cepat ia menemukan sebuah bengkel mobil bernama Art Shokai, melamar pekerjaan, dan tinggal disana selama 6 tahun. Siang harinya, ia biasanya bekerja sebagai montir mobil dan malam harinya, mengerjakan mimpi-mimpinya guna mendesain mobil balap.
Terhitung sudah sekian lama ia bekerja dan mendapatkan uang. Setelah cukup dana tabungan, ia mencoba untuk memulai sebuah bisnis perbaikan mobil. Dia pun kembali lagi ke Hamamtsu. Pada tahun 1928, ia sudah berani mengorganisir Tohai Seiki Copany untuk memproduksi cincin piston. Sebagian besar dijual ke Toyota – produsen mobil terbesar di Jepang saat itu.
Bisnis berjalan baik, tapi Honda tidak mau berhenti disitu saja. Pada pertengahan tahun 1940’an Honda akhirnya merancang dan mendesain mesin kecil yang bisa digunakan pada sepeda untuk nanti dibuat sebagai sepeda motor.
Langkah Awal yang sempat Mundur.
Perang Dunia ke 2 adalah penyebabnya. Semua itu sempat menghentikan mimpi-mimpinya. Pada tahun 1945, pabrik Honda mengalami kerusakan serius akibat pemboman. Semua orang pasti melihatnya sebagai suatu kegagalan, tapi bukan untuk Soichiro.
Melalui kearifan selama ini yang ia peroleh dari dunia perdagangan. Soichiro berhasil menjual sisa-sisa binisnya ke Toyota seharga 450 ribu yen. Apa yang dia lakukan selanjutnya ?? Dia pergunakan pendapatan tersebut untuk membeli sebuah tangki alkohol seharga 10 ribu yen dan menghabiskan 1 tahun guna merencanakan usaha baru. Merayakan nya bersama teman-teman dengan hidangan minuman wiski yang lezat pada pabrik buatannya sendiri.
Tapi segera dia menemukan peluang baru dari reruntuhan perang. Mendapatkan beberapa mesin yang sudah tidak dipakai lagi oleh militer. Perangkat mesin tersebut dia hubungkan dengan sepeda dan menjualnya kepada orang-orang yang sangat membutuhkan transportasi. Terutama daerah-daerah pertanian untuk mencegah masalah kelaparan. Dari situlah muncul keberdaan motor dan segera mesin bermerek Honda berdiri.
Beberapa bulan kemudian, Honda membuka sebuah perusahaan yang bernama ‘Honda Technology Research Institute’ pada tahun 1946. Mulai memproduksi moped dan sepeda motor. Dalam waktu sedikit lebih dari 1 dekade kemudian, Honda menjadi salah satu produsen sepeda motor terkemuka di Planet BUMI (Buku Manusia).
Selain memiliki strategi pengelolaan bisnis yang tak jamak, Honda juga sempat mengejutkan masyarakat pers saat menyatakan bahwa dia tidak berniat mengalihkan bisnisnya ke ahli waris (2 putra dan 2 putri). Sebagai buktinya, ia lebih memilih seorang pemimpin yang berkompeten diantara pegawainya.
Tidak Ortodoks dalam mengejar Mimpi.
Usaha motornya berkembang pesat. Segera model populer pertama dari produksi motor Honda, the Dream, menutupi jalur hiruk-pikuk jalan di kesemua pulau-pulau Jepang dan bersiap memasuki pasar dunia yang lebih kompetitif. Tidak sabar tampaknya ketika ia memperhatikan secara seksama keberhasilan itu.
Takeo Fujisawa, seorang pengusaha yang terpilih untuk menjadi mitra terdekat Mr. Honda. Dari sepeda motor ke mobil. Pada tahun 1957, Honda telah memiliki pabrik terbesar di dunia. Memproduksi N360 dan menangkis berbagai cercaan dari para birokrat yang menganggap bila Honda telah bersekutu dengan pihak asing.
Yang ia lakukan hanyalah melancarkan kinerja periklanan secara efetif. Dalam 1 dekade berikutnya, Honda telah menjadi produsen sepeda motor terkemuka di dunia dan memiliki pangsa pasar sepeda motor terbesar di Amerika. Jauh melampaui kemampuan Toyota dan Nissan.
Sekejap Soichiro Honda menarik perhatian pers. Tidak seperti kebanyakan pebisnis Jepang, dia sangat mencintai interaksi itu semua. Seorang pria kecil, tapi banyak bicara. Dia adalah lawan dari apa yang orang Barat bayangkan sebagai imperium bisnis Jepang yang baru. Acapkali berpakaian santai dan sangat bangga saat mempertahankan kinerja jajaran eksekutif perusahaannya. Honda berani secara terbuka menyuarakan kekagumannya terhadap praktek dan cara hidup bisnis di Amerika Serikat.