
Mekanisme mesin skubek memang kompak. Itu karena skubek didukung CVT yang terdiri dari kopling sentrifugal (otomatis). Saking kompaknya skubek enggak butuh pemindah gigi. Ya, seperti Honda BeAT, suara mesin dan putarannya terhubung sangat halus mulai dari rpm bawah sampai atas.
Tapi, sehalus-halusnya CVT, kalau salah satu komponen bermasalah repot juga. Selain suara berisik, tunggangan seperti tersendat mulai mesin dihidupkan hingga grip gas dibuka untuk jalankan motor matik.
“Biasanya belt di pull mulai kotor, lubang alur di mangkuk pull skunder-skunder agak terkikis atau mangkuk kampas kopling sentrifugal tidak rata lagi. Makanya timbul suara aneh dan jalan skunek enggak normal,” beber Wiliam Candra alias Billy, Instruktur Mekanik sekolah HMTC (Hartomo Mechanical Training Centre), Jogja.

William Candra. Ketika sudah tidak perduli, komponen gampang rusak.
Namun sumber semua masalah selain cara pakai yang kasar, juga tergantung dari cara pemilik merawat mesin. Apabila komponen di CVT rawan debu, oli dan air. Ketika sudah tidak perduli lagi, komponen gampang rusak hingga timbul berisik atau jalan tersendat. Lebih parah nya lagi, van belt bisa putus dan bahan bakar (BBM) penggunaannya semakin boros.
Cara paling sederhana juga membuat kondisi CVT agar tetap baik yaitu 3 hal itu. Misal selalu bersihkan filter udara CVT setiap 3 bulan atau berbarengan saat servis berkala. Namun jika filter udara mulai berpori besar, tersumbat atau robek segera diganti dan tidak bisa ditawar.
“Jika debu campur air masuk ke rumah CVT dan mengendap di belt atau roller, kedua komponen bukan cuma cepat terkikis, tapi akan menimbulkan suara mencecit. Parahnya lagi, jalannya tunggangan tidak lancar lagi,” Lanjut Billy dari Jl. Sisingamangaraja No. 72, Karangkajen, Yogyakarta.
Persoalan juga bisa dari cara pakai dan perakitan. Apalagi kalau komponen CVT juga pergunakan pelumas khusus berupa gemuk (grease) tidak dilakukan penggantian secara berkala. Maka disarankan untuk melakukan pelumasan rutin setiap satu tahun sekali.