Fariqun Ahmad, saat ini sedang Meniti Karir di Dunia Perminyakan

Kata siapa para tenaga kerja Indonesia sulit bersaing dengan pekerja luar negeri saat menerima lowongan kerja di lapangan offshore atau minyak lepas pantai. Pasalnya mungkin, hingga saat ini, banyak dari awak perusahaan offshore Indonesia tak memiliki sertifikat internasional.

Pastinya enggak semua orang boleh atau layak bekerja di Offshore. Banyak persyaratan wajib dipenuhi sehingga hanya mereka yang betul-betul fit dapat dibenarkan berada di atas platform. Adapun sekelumit kisah perjalanan Pak Fariqun Ahmad sempat menuturkan tentang itu semua. Dan memang bekerja di bidang pertambangan tidaklah mudah. Namun bila ada kesempatan, siapa pun menyatakan selalu siap sedia.

Akhir tahun 2013, pria kelahiran Cilacap mulai bekerja di Offshore. Sebelumnya ia pindah-pindah kerja pada berbagai repair shop. Sudah semestinya memang bila usianya yang masih muda saat itu, menuntut waktu yang ada diisi oleh pengalaman positif bagi masa depan.

Lulus dari HMTC (Hartomo Mechanical Training Centre) tahun 2004, lantas setelah itu bekerja pada bengkel umum selama 3 bulan. Pindah job ke dealer Kawasaki selama 2 tahun. Terus ikut HMTC Speed Shop yang saat itu berada di daerah Cipinang, Jakarta Timur selama 3 tahun.

“Karna pindah ke Cileungsi, jadi saya nga ikut,” jelas Pak Fariqun Ahmad, 31, di Facebook account (24/09/2017). Enggak mau terlena dengan keadaan, kesempatan kerja saat itu di bengkel Ardvark garage, milik Kawasaki Athlete, ia ambil. Itu pun berkat pengalamannya kerja sebelumnya, sehingga ia tampak percaya diri untuk kembali masuk dalam ruang lingkup komunitas yang pernah dinaungi.

Ikllim nya kondunsif dan sangat menyenangkan. Disana tersedia ragam aktivitas yang dapat meningkatkan kemampuan skill-nya di bidang permesinan motor. Dari membuat lampu, memodifikasi motor balap, hingga rajin mengikuti touring ke berbagai kota. “Komunitas nya jg tampaknya ok,” urainya kemudian, “Cm udh btenggelam juga. Trus sya pindah lagi kerja di redzone company, bengkl costum. Sebagai eksekutor saja.”

Masa aktif di Red zone dijalankan hanya 1 tahun, karena saat itu bertepatan dengan hadirnya lowongan kerja dari Off Shore. Kebetulan juga, enggak sedikit orang-orang di kampungnya  sudah banyak bekerja di perusahaan tambang, PT Yodi Intiguna Mandiri. Berbicara tentang kesulitan dalam hal adaptasi saat bekerja di Offshore ?? Dia bilang tidak ada masalah, karena semua itu masih ada hubungan erat dengan kebiasaannya selama ini di bidang permesin.

Cuma, “Tergantung orang nya om. Klo bisa ngembangin, ya ngak kaget, klo megang mesin 12 cylinder. Tapi ya cm jadi asisten mechanic,” terangnya. Lalu, bagaimana dengan persyaratan lainnya, “Klo buat masuk ke Offshore banyak sertifikat yg harus di ambil terutama di bidang safety. Ya klo untuk mesin kapal ada lagi. Ngambil sertifikasi nya di Pertamina.”

Wah. . . . . . .Tampaknya informasi menarik nih bagi para teman-teman lulusan HMTC yang sedang mencari lowongan kerja. Setidaknya ilmu pengetahuan yang telah diraih di darat dapat pula digunakan juga di wilayah lautan. Walau memang senada dengan itu, suasana kerjanya sangat berbeda. Mengingat perjalanan menuju tempat kerja ditempuh menggunakan boat atau helikopter. Sebut saja suatu platform yang terletak di tengah perairan samudera. Tetapi perlu diingat. . . . . .Rasa syukurlah yang akan menjadikan semuanya indah untuk dinikmati.

 

Nama Lengkap: Fariqun Ahmad

Tempat tanggal lahir: Cilacap, 17 Mei 1986.

Lulusan: HMTC Jl Sawo, Rawangun. 2004

Perusahaan Off Shore: PT Yodi Intiguna Mandiri

Alamat: Gg Rambutan Jatimurni, Bekasi, Jawa Barat

Facebook: https://www.facebook.com/fariq.ahmad.5

WA: 085-959-061-986